Salaman dengan perempuan bukan Mahrom?


Jika perbedaan pendapat terjadi pada ranah selain akidah dan hukum-hukum awal yang pasti, maka perbedaan adalah keniscayaan. Berhentilah menjudge ‘kebodohan’ kepada para alim atas usaha menetralkan suasana yang kian carut marut.

pagi ini senin 26 november, seorang kiyai menghadapkan pertanyaan yang membuat sayyed terdiam. ihwal jabat tangan dimana budaya daerah kian menjadi wajar tanpa menimbang apakah dari perempuan muda cantik maupun fitnah yang menjadi batasan.
nu Sayyed #alGhiyas -berkah Maulid- Bikailarobbi

Ya, sayyed pun kerap melihat langsung guru-guru mulia yang mempraktekkan hal ini, sebuah pemandangan yang membuat seorang bodoh berperasangka buruk nafikan luasnya sebab dan dalil-dalil atas satu pemahaman yang belum terjamah.

Pokok masalah jabat tangan ini adalah tentang usia muda dan “kemungkinan terjadinya fitnah karena menimbulkan syahwat dari lain jenis”. bilakah menjadi boleh jika kemungkinan tersebut redup dan dipastikan aman dari fitnah?

Alkasani, Ibnu Najim al-hanafi dan beberapa ulama besar dari madzhab Hanafiyyah melegalkan hukum ini dengan alasan tersebut dan keduanya atau salah satu diantara keduanya adalah orang yang sudah berumur tua. mereka berdalih dengan beberapa riwayat beeikut:

a. diriwayatkan bahwa Rasulullah solli alaih pernah bersalaman dengan ‘perempuan-perempuan’ tua. [riwayat ini belum sayyed riset, hanya nukil dari bada’i sona’i, salah satu kitab inti dari madzhab hanafi karya Alkasani]

b. diceritakan bahwa sebagain sahabat pernah bersalaman dengan para perempuan tua, dan terdapat riwayat bahwa Sayyidina Abu bakar melakukan ini. [kitab bahru Ra’iq] ,

Abdullah ibn Zubair ketika sakit, beliau menyewa peladen dari kalangan perempuan tua dan menekuk ‘memijat’ kepalanya. [Nasbur Rayah: Zayla’i] keterangan ini menegaskan tentang bolehnya perempuan tua memegang laki-laki, begitupun sebaliknya.

pun hujjah dan dalil-dalil tersebut sekilas tidak begitu kuat jika dikomparasikan dengan argumen mereka yang melarang secara mutlak. paling tidak, kebodohan kita jangan dijadikan standar untuk menilai sebuah fenomena yang melahirkan buruksangka berakibat hilangnya keberkahan istiqomah dan ketinggian derajat mereka dihadapan Allah Rabbul izzah.

Pada sisi lain, assobuni dalam Rawai’ul bayan menyimpulkan, perihal hukum pertamanya -larangan salaman- :

Pembelajan penting dari tidak berjabat tangannya Rasul dengan perempuan yang bukan muhrim adalah petunjuk jelas kepada umat, terlebih orang awam untuk memgikuti jalan manusia yang paling istiqomah. beliau yang berhati suci tidak akan tergelincir nafsu dan fitnah saja sangat menjaga diri dari hal-hal yang akan disalah fahami manusia umum.

*Wallahua’lam bis sowwab.

hukum awal -larangan- sudah sangat banyak dibahas, alternatif ini hanya untuk pemahaman agar tidak Buruksangka, dan bukan untuk dijadikan standar pembenaran. Faham pora?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون