Perbedaan Rasa dalam Ibadah ?


image

para sufi meyakini bahwa ihwal ibadah mereka sanggup menikmati pengalaman yang lebih komplit #IdrisShah

Apakah esensi sebuah penghambaan yang tak lekang dari setiap nafas manusia mukallaf baligh. Ketika perkenan berupa Ridlha ilahi masih menjadi sumber misteri atas tindak tanduk kebiasaan, sanggupkah manusia awam sepertiku menguak tabir rahasia yang memang hanya diwariskan kepada  para ahli waris sesungguhnya, para ulama pengamal keakuratan sunnah-sunnah Nabawi.

BikailaRobbi
Sayyed EP

Setiap jum’at para khatib lantang menegaskan amaran taqwa sebagai satu  kewajiban dari lima syarat sah khotbah : ittaqullah haqqo tuqotih– bertaqwalah sebenar-benarnya taqwa- . sementara taqwa paling rendahpun sulit bagi awam untuk bisa mengimplementasikannya secra intens kontinue. Apakah ini memang beban yang impossible bagi mayoritas manusia. Ketika ritual shalat yang notabenenya sebagai tonggak agama  pun belum sanggup meredam fahsa wal munkar-keburukan perangi serta kemungkaran-.

Bagaimana mungkin merasakan pemgalaman indah dan kumplit dalam shalat ketika semua hiruk pikuk  alam fana ini masih lebih menyibukkan fikiran dan hati dari pada menghayati semua doa yang terlafadzkan dari takbir ihram hingga salam.  Shalat adalah doa, al fatihah hingga tahiyyat salam merupakan doa dan wasilah agar musholli-orang yang shalat- dapat meneladani pengamalan dan  pengalaman hidup penuh ridlha layaknya shalihin shiddiqin hingga para nabi.

Khusyuk’ menjiwai makna sebuah takbir,  bacaan wajib sampai pemahaman esensi ketertundukan total dibalik ruku dan sujud merupakan gerbang awal merasakan pengalaman komplit dalam ritual ini. memaksimlkan  rukun-rukun internal inipun masih sekedar impian jika toharoh wudlu, pakaian tempat dan semua wasilah perantara sebelum shalatnya belum memenuhi kriteria legal sah. Karenanya setiap perintah agama pasti tersirat perintah memaksimlkan semua wasilahnya terlebih dahulu.

Assajad Ali Zainal aabidin cucu Rasulullah,  konon beliau selalu merasa tertantang tegang hingga raut wajahnya memerah setiap kali hendak melaksanakan shalat. Haibah kharisma Rabbul izzah telah dirasakan sejak melalukan ritual bersesuci sampai tkbirotul ihram. Belaiu adalah alim zahid yang terkenal dengan sujud panjang dan seribu rakaat malamnya. Kebiasaan ini membuat  ulama padamasanya melabeli gelar Assajjad ‘ ahli bersujud’. 

Guru mulia sayyed,  alhabib salim bin abdullah assyatiri dari hadramaut Yaman sang sulthonul ulama Tarim yang sudah tidak sanggup berdiri tegak lagi  akibat kejadian ditabrak mobil seorang komunis pemberontak dimasa konflik Yaman selatan, beliau dikenal dengan ulama yang memiliki rutinan menghabiskan  malam  dengan  shalat seratus rakaat diluar sunnah-sunnah malam lainnya terutama dibulan ramadhan.

Kegigihan para penikmat rasa dalam ibadah secara komplit ini adalah bukti nyata keberkahan umur dan waktu. menilai keberkahan waktu yang dihabiskan para ahli sujud bagi kebanyakan manusia memang bukanlah perkara logika. Karena bagi para hamba terpilih, waktulah yang akan tunduk dalam kekhusu’an setiap ritualnya. satu jam bagi manusia umum serasa sepuluh jam lebih bagi pemilik karomah khususNya.

Layaknya doa-doa para mudthir-orang orang yang tertekan- yang dilantunkan saat keaadan terhimpit kesusahan dan tak ada lagi pertolongan selain dariNya. Shalat juga sejatinya merupakan fase doa  yang membawa manusia untuk meraih kesadaran layaknya  mudthir, terus menjiwai   dzil kekerdilan diri seraya menafikan apapun selain kemaha besaran Rabbul izzah. hanya saja atmosfir ini jarang sekali dialami mayoritas manusia yang masih menilai shalat sebagai sebuah tagihan hutang atas kewajiban hariannya.

mahabbah dan loyalitas hamba pilihan mengaplilasikan ritual ini dengan asas ihsaan – menyembah Allah seakan akan kamu dapat melihatNya, pun jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu-. apakah seseorang akan bekerja serampangan dan  semaunya  jika sang pemilik semua nikmat gratisan ini melihatMu? apakah ritual semaunya ini sanggup membalas satu nikmat mata saja, bagaimana jika harus dihisab jutaan nikmat-nikmat lainnya tanpa ada rasa syukur Trima kasih atas anugrahNya.

inilah wujud perbedaan antara  nikmat yang dibalas istidraj -penyelewengan maksiat nyata- oleh manusia awam dan nikmat yang dibalas syukur – mentasbihkan diri pada totalitas  perhambaan –  oleh manusia pilihanNya melalui setiap ibadah- ibadah lainnya.

garis bawahi lagi ihwal bagaimana kriteria doa yang dikabulkan. asupan halal dan segala tentang wasilah sebelum shalat  yang menjadi boarding pass menuju misi utama kekhusyukan. Maknai surat alfatihah disetiap kalimat kalimatnya dengan pemahaman doa. Resapi setiap takbir tahmid tasbih, ruku sujud sampai salam. Beristighfar lah setelahnya karena minimnya kehadiran. serta masih banyaknya cela cela kealpaan dari setiap rakaat dan bacaannya.

semoga secuil dari pengalaman kumplit yang dialami dan dirasakan para ahli sujud dapat menjawab  keterasingan ruh atas jasad yang kita latih untuk senantiasa terarah pada jalan lurusNya.

ihdinas Siroothol Mustaqieem

Wallahu a lam
allahumma solli ala alqoil: shollu kama Roaitumuuni Usholli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون