Bahasa Langit dan Membumikan Syariah?


image

Setiap muslim dimanapun otomatis terikat dengan kontrak  praktik  Syariah Islam.  masalah maksimal dan minimalnya tergantung bagaimana ia sanggup memahami dan menjiwainya

Bikailarobbi EP
Bikailarobbi.wordpress.com

 

Syariah dan Bahasa Langit

membumikan bahasa langit adalah membumikan bahasa Tuhan?  ketika sayyed masih duduk dibangku MTS Bumiayu,  seorang guru mengisahkan kekagumannya pada sebuah buku terkait membumikan Alquran.  buku yang lumayan tebal tersebut sudah menjadi best seller kala itu.  entah sampai hari inipun sayyed hanya sekilas melihatnya  berjejer di toko-toko buku dan belum pernah membaca bahkan sampai mengaguminya.

Judul menarik dan menggugah adalah satu dari beberapa trik membangkitkan gairah dan rasa penasaran audien utuk kemudian memaksa mereka mengkonsumsinya.  memainkan bahasa dan mengorbankan keterbatasan informasi masyarakat umum adalah fakta yang harus sering terjadi berulang-ulang. hal ini telah sedikit diulas dalam tulisan lama dimana sayyed mengafirmasi judul buku lain dari pemiki Islam kiri yang menulis : Alquran wahyu sekuler.

Sejak masa Rasulullah ketika Islam masih asing hingga dikenal dan kembali asing.  Alquran sudah dibumikan oleh beliau.  bukankah tugas para utusan  khalifah bumi  dan pewarisnya memang hanya itu.  mensekulerkan wahyu agar menjadi norma-norma kehidupan alam ini.  semua tentang kajian syariah mahdoh – murni-  Islam  dan ghoiru mahdoh – tidak murni –  dari cabang ilmu apapun baik yang selaras maupun yang sudah diselewengkan termaktub dalam wahyu suci. Ma farotna fil kitabi min syai’.  tidak ada yang terlewatkan dalam alkitab suatu apapun.  # Alan’am 38.  masikah anda  meragukan bahwasanya kitab yang diturunkan pada Sayyidina Muhammad adalah diktat komperhensip? dan para sahabat perekam hadis hadis suci adalah contoh kongkrit  sebaik-baik  praktisi yang membumikan wahyu dan alhadis?

Sayyidatina Aisyah r. a ketika ditanya Abu Bakar r. a tentang ahlak Rasulullah,  beliau menjawab : ahlak beliau adalah Alquran.  bagi Rasulullah, Alquran adalah KATA KERJA.  ucapan,  perbuatan,  ketetapan dan sifat beliau adalah gambaran otentik dari isi wahyu suci. lupakan sejenak tentang klaim  teori living quran yang sekarang hanya menjadi sebuah jargon bagi komunitas tertentu.

Pengertian jujur berikutnya adalah perihal  klaim syariah Islam.  dimana kalangan sebagian ikhwan  menganggap merekalah manusia suci pengamal syariah.  sementara miliaran muslim lainnya dianggap keluar dari track lurus syariah!! konten syariah adalah tauhid yang diaplikasikan melalui fikih ibadah dan muamalah manusia dalam ranah privat dan sosialnya.  syariah bukan melulu tentang iqob – siksa- potong tangan,  rajam,  diasingkan sampai hukuman mati.  sebaliknya pada masalah Hukum Huddud – batasan terkait dosa yang mewajibkan qisos- Rasulullah sendiri memberikan warning yang ketat – Idrooul Huddud fiss syubahaat – agar seseorang tidak gegabah dan asal qisosh pada perkara yamg samar .  butuh saksi,  hakim adil wara’,  pemerintahan Islam dan seabreg syarat lain untuk bisa ditegakkan.

Asumsi bahwa mereka yang tidak mengamalkan syariah Huddud adalah bukan muslim,  sama saja mengkafirkan 99% lebih umat muslim dunia.  Imam Abu Hanifah sebagai manusia paling faqieh – alim- zuhud,  wara’ dimasanya saja sangat berhati- hati.  beliau lebih rela di penjara dan disiksa Khalifah masanya.  saat beliau menolak untuk ditunjuk sebagai hakim tertinggi bagi Kerajaan Khalifah. melihat madzharat yang lebih real berupa   tanggung jawab Qodhi hakim sangatlah berat,  dituntut untuk menghukumi segala hukum termasuk perihal iqob dan Hudud yang rentan dengan perkara samar – syubhat-.

Setiap muslim dimanapun otomatis terikat dengan kontrak  praktik  Syariah Islam.  masalah maksimal dan minimalnya tergantung bagaimana ia sanggup memahami dan menjiwainya.  jangan terkecoh  dengan ucapan “negri Kafir lebih Islam daripada negara yang mayoritas muslim”. bukankah ketika muslim  berbuat maksiat ia otomatis bukan ‘termasuk’  orang yang beriman.  apapun bentuk penyelewengan dari seorang muslim ketika itu juga ia sedang dicabut ‘imannya’ walaupun kerap bertaubat dan berdosa lagi.  hal ini jelas berbeda dengan iman bawaan orang mulhid – menafikan Allah-  dimana perbuatan baiknya hanya bermanfaat di alam didunia. sementara pada di hari ahir, amal mereka tidak dianggap. seperti debu yang terhempas angin – habaa an mansurro-.

Wallahu A’lam
Wasolla Allahu ala Muhammad
wa ma Taufiqi illa Billah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون