Terlambat hadir Shalat Jumat?


image

Tidak shalat Jumat?  tertingal satu rakaat jumat? hanya menemui rakaat terakhir?  atau terlambat hadir sampai imam telah i’tidal rakaat kedua?  adalah masalah-masalah  fikih samar yang diremehkan dari ribuan masalah yang dianggap biasa dan lumrah untuk tidak dimengerti!

Fikih shalat Jum’at bagi yang Tertinggal Rakaat

perihal shalat jumat kerap disinggung sayyed sebelumnya.
pada kasus tertinggal rakaat apakah seseorang tetap dihukumi shalat jumat atau harus menggantinya dengan sholat duhur. ketika seseorang terlambat menghadiri jum’at dan datang disaat Imam telah ruku’ dari rakaat pertama atau kedua,  bagaimana sikap makmum meneruskan shalatnya? 

bikailarobbi Sayyed manusia lalim

menurut dasar-dasar aturan mu’tamad – dijadikan pegangan- madzhab syafi’i,  sholat jumat dihukumi sah jika telah memenuhi enam kriterianya : jumat didirikan pada sebuah desa atau distrik tertentu,  melaksanakannya secara berjamaah,  dihadiri empat puluh lelaki yang memenuhi standarnya,  pada waktu dzuhur,  tidak didahului oleh jamaah jum’at lain pada daerah yang sama dan terakhir dilakukan setelah dua khutbah. 

akar masalah pada kasus diatas adalah perihal syarat “melaksanakan dengan berjamaah”.  apa batasan jamaah yang sah menurut syariah yang disimpulkan ulama?  batas minimal jamaah dalam jumat adalah mengikuti rakaat pertama  bersama imam dengan sempurna yakni sampai  makmum menuntaskan sujud keduanya dirakaat pertama.  walaupun setelah itu makmum menyempurnakan rakaat keduanya sendirian secara terpisah – mufaroqoh- dari imam. dengan demikian,  makmum telah memenuhi standar kriteria minimal syarat  sah berjamaah pada shalat jumatnya. 

Mengingat batas minimal jamaah adalah satu rakaat  maka ketika makmum datang terlambat dan  mengikuti  hanya pada rakaat kedua dengan sempurna sampai tuntasnya imam,  maka rakaat tersebut juga  telah  memenuhi batas minimal “melaksanakan jumat dengan jammah”. kewajiban  sang makmum hanya  menambah satu rakaat berikutnya yang memang terlewatkan.

inilah inti dari kebingungan  lumrah masyarakat dalam menjalani jamaah jumat.  syarat mengikuti satu rakaat enggan dimengerti batas minimalnya.  seperti keterangan diatas tentang “batas minimal rakaat adalah : makmum mengikuti imam sejak sebelum ruku’ bagi makmum muwaffiq atau sejak ketika ruku’  bersama imam bagi makmum masbuq,  sampai sempurnanya sujud kedua”. 

syarat ini otomatis menafikan sah jumatanya makmum yang datang terlambat hingga batasan minimal  rakaat keduanya imam  dianggap habis,  yaitu  ketika imam telah menjalankan rukun i’tidal pada rakaat kedua dan seterusnya. 

Sholat tanpa niat – Niat tanpa shalat

kewajiban makmum yang terlambat mengikuti rakaat kedua dan hanya menemui imam yang sudah i’tidal – berdiri dari ruku’nya- adalah tetap meniatkan diri bermakmum dengan niat sholat jumat.  akan tetapi ia harus menyempurnakan sendiri dengan shalat dzuhur empat rokaat seperti biasanya.  istilah ini dikenal dengan sebutan,  nawa wala solla –  sholla wala nawa (makmum niat sholat  jumat tapi tidak dianggap jum’at karena prakteknya ia harus menyempurnakan dengan shalat dzuhur- makmum sholat dzuhur tapi awalnya ia berniat untuk sholat jumat ).  hal ini terjadi pada makmum yang tidak memenuhi batas standard minimal “satu rakaat bersama imam jum’at”.  

kenapa harus niat jumat kalolau kenyataannya harus menyempurnakan shalat dzuhur,  hal ini dilakukan karena adanya kemungkinan jika imam meningalkan salah satu rukun shalatnya dan imam menambah satu rakaat lagi untuk menambal kekurangan rukun tersebut.  ketika imam menambah satu rakaat tambalan tersebut maka makmum yang terlambat dua rakaat itu di mungkinkan bisa melengkapi satu rakaat sempurna dengan imam. kajian ini masuk pada ranah asbab sujud syahwi!?!?. 

Wallahu A’lam
Masjid lama, melihat para makmum masbuq yang tertinggal dua rakaat dan hanya menambah dua rakaat. what wrong with…?

silahkan di koreksi ulang
wama Taufiqi illa Billah
jumah mubarokah 
Taqrirah saddidah feat old memories reminder. 

outTr0:

“mufaroqoh adalah keringanan terkait diizinkanyya seseorang untuk berpisah dari ikatan kewajiban mengikuti imam dalam shalat jamaah baik sunnah maupun wajib. hingga ia – makmum yang sudah munfarid- boleh menuntaskan shalatnya sendiri mendahului atau mengakhirki dari shalatnya imam.  izin ini dilakukan harus melalui alasan yang jelas,  baik dhorurot hajat seperti tidak kuat menahan hajat toilet.   teringat hal yang bila diakhirkan akan menyebabkan kefatalan atau alasan sesuatu yang membatalkan sholat terjadi pada imam menurut keyakinan madzhab makmumnya.  makmum boleh memisahkan diri dengan niat dalam hati :nawaitu mufaroqotal imam. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون