Esensi Ilmu adalah Nurullah


image

Ulama (pewaris nabi)  bukanlah mereka yang paling banyak mewariskan ilmu melalui  riwayat-riwayat yang ditelaah.  ulama adalah para peraih Nur (ilahi)  yang telah– Allah letakkan d! pada jiwa-jiwa mereka #MalikbinAnas

Sayyed EP 
BiJahi Jaddil Hasanain iLa Robbi

Fenomena lazim lagi memilukan pada masyarakat umum terkait penyematan gelar seorang guru dan panutan diantaranya sebab ‘kejujuran’ seseorang dalam mengartikan makna-makna sebuah teks suci.  memaknai  ulama,  kiyai,  ustadz dan ustadzah kotemporer sebagi ulama yang ‘sebenarnya’ adalah hal yang wajar.  kata ulama  derivasi dari alima ya’lamu ilman  (fa huwa)  aalimun. aalimun adalah   isim fail dari rangkaian kata kerja alima-ya’lamu. kata ini bermakna “seorang yang memiliki ilmu”.  ulamaa’u  bentuk  plural dari kata aalimun. 

Kata ulama sebagai istilah hakiki atau majazi  dari seorang  pengumpul informasi,  teori,  riset sampai dogma  agama inilah yang kerap dicerna apa adanya.  makna ini membuat kesakralan syariah luntur  hanya sebatas teks untuk dikaji dalam diskursus Islamic studies.  penyematan gelar formal maupun non formal disematkan bagi para informan ini.  khususnya masyarakat indonesia dimana seseorang  kerap didewakan  dengan embel-embel “pakar” hanya karena ia pernah menulis thesis maupun disertasi  saat ia  menjalankan tugas wajib tuntutan project  dan akademiknya.  pakar  ushul,  pakar linguistik,  pakar faroidlh,  pakar sejarah dll.

Bahasa ilmiah isme saduran maupun teori  usang yang dihidupkan kembali seakan-akan dialah sang peramu,  penemu dan penyebarnya. sementara pada masa lampau yang terjadi adalah sebaliknya. sang peraih gelar mujtahid mutlak sekelas imam Syafii pun enggan ketika namanya dijadikan acuan dalam bermadzhab.  beliau membebaskan murid-muridnya untuk mengkaji ulang segala masalah yang telah diteorikannya.  dalam masalah fikih secara global,  imam syafi’i juga mengakui bahwa pondasi dari semua teori dalam masalah  fikih adalah bagian dari kajian sang imam a’dzhom Imam Abu Hanifah r. a sebagai pionir metodelogi hukum Islam. seraya berkata : Annaas fil fiqhi iaalun li Abi hanifah*. manusia dalam masalah fikh -cenderung berkonsep – kepada Abi hanifah.   

kritik dari sebagian ulama wahabi yang memojokkan Imam Abu Hanifah r. a dengan berbagai tuduhan keji – seperti klaim  mendahulukan qiyas daripada hadis ahad –  hanyalah ‘kejujuran’ upaya ulama Tekstualis menilai sang  – bahrul ulum- lautan ilmu yang sangat luas. posisi sang Imam A’dzhom di Iraq  yang jauh dari para perawi hadis kota Madinah Munawwaroah menjadikan beliau sangat hati-hati – wara’- dalam memilah milah hadis untuk dijadikan hujjah.  Jika ahlul hadis hanya memaknai secara literal maka tak heran kedalaman pemahaman dan ketelitian Imam Abu hanifah dalam ijtihad-ijtihad revilusionernya kerap membuat mereka terpedaya sendiri.

Madzhab fikih Islam pertama, paling banyak  ulama,  kitab serta pengikutnya di berbagai penjuru bumi  adalah bukti nyata bahwa sang imam A’dzhom adalah seorang alim Rabbani yang dikaruniai ilmu naafi’.  klaim-klaim misunderstanding yang diyakini sebagian ulama tekstualis juga pernah menyudutkan Khalifah Alfaaruq Sayyedina Umar ra.  masalah-masalah agama yang terlihat  baru dan mengada-ada dari kajian ushul fiqih mengaplikasikan  teori tanqih dan tahqiqul manath yang dipraktekkan Sayyidina Umar bin r. a pada 11 lebih  ijtihad revulsion beliau,  yang jika difahami apa adanya maka orang awam  pasti akan menyalahkan sang khalifah,  karena telah bersebrangan dengan nash Qur’an dan sunnah. seperti  ijtihad beliau saat   tidak memotong tangan pencuri,  mengurangi jumlah penerima zakat,  pengadaan baitul maal,  tarawih 20 rakaat dll. 

Ulama bukanlah   para informan pembaca buku maupun penelaah masalah dan menilai sesuatu dengan kapasitas  logikanya.  ulama adalah para penerima anugrah  kehususan Nur ilaahiyyah.  ulama adalah buah dari keketan  istiqomah atas ketaqwaan  tarikat hingga meraih ilmu tanpa perantara. Ulama adalah penikmat secara kasat mata dari ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yakin pada setiap amaliahnya. ulama adalah mereka yang paling mengerti hak-hak mahluk atas Khaliqnya,  karenanya mereka sanggup mengidentifikasi rasa haibah,  menjaga wibawa sampai pada perasaan khauf dan khosyah – ketakutan yang haq- serta senantiasa beradab memuliakan semua mahlukNya karena sang Khaliq. ulama pewaris para nabi adalah para Qutub jagat raya.   [Baca di : Maulid Insan Kamil].  ulama adalah para praktisi ilmu laduni.  ulama adalah bergantungnya  seseorang dengan keterkaitan orang-orang yang memiliki mata rantai guru mulia hingga menyatu kepada AL MUALLIM Rasulullah, Jibril dan ALLAH swt. 

wama Taufiqi illa Billah
Allahumma Solli ala Muhammad alMuallim.

Kelak Sayyed disatukan dengan para  ‘Ulama’  lagi.  hingga mirisnya  kebekuan demi kebekuan ini bisa mencair dan terjawab kembali.  amien

go there
*mizanul Kubro, Syarani
*Dhawabitul maslahah, Ramdhan buti
*Marifatul awal wal awakhir,  Jilie

 

sayyed ep dalam diagnosa rasa

coretan lama (edisi Tak lazim):

Jambret Masjidil Harom
Sayyed Diusir Polisi Makkah

Lika Liku Jamaah Hajji Indonesia
Pengalaman Tidur Disamping Jasad Nabi
Curhat Para Pecandu xxtc :
Curhatku Kepada Rasulullah

Alquran Bukan Mainan

Cinta Tak Kunjung Padam

Imsak Bukan Batas Mulai Puasa?

Belenggu Hasrat Konta Kesabaan

Hatimu Jawaban

Inikah Nikmat Sejati?

CInta Buta?

Hukum Dry Cleaning Possible

Perempuan Mulia yang Terlupakan

98% Puasa Kita Batal!

Daftar Isi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون