Syubhat Air Mustamal, Mutlak dan Najis?


image

Kami telah Turunkan dari Langit  Air Tohuuro  – suci dan mensucikan- ayath

Bismillahirohmannirrohim

Prosedur dalam masalah pensucian badan maupun benda  melalui wudlhu,  mandi dan mencuci benda merupakan proses kembali ke fitrah manusia. tujuh macam air mutlak  yang kesemuanya bersumber dari langit terbagi menjadi dua,  air langit : hujan,  salju dan embun.  air bumi: air sumberan,  sumur,  sungai dan laut. tujuh macam air inilah yang menjadi standar sah nya bersesuci dari hadas – kotoran maknawi- kecil maupun besar,  pun najis aini – yang nampak- atau hukmi – yang tak nampak pada badan maupun benda apapun. 
Bika Muhammad ila Robbi
sayyed Muhammad EP

Dua kullah (sekitar 217 liter)  yang menjadi standar umum pada masalah air bukanlah syarat wajib untuk bersesuci. dua kullah hanyalah batas minimal terkait masalah Apakah air tersebut kebal dari perubahan sebab najis atau benda suci yang merubah hukum air mutlak menjadi tidak mutlak.   karenanya standar air yang digunakan untuk mencuci hanyalah sifat ke mutlak an air saja. hal ini dibuktikan dari beberapa riwayat sahabat nabi yang sering melihat Rasulullah berwudu hanya dengan dua sha’ (sekitar dua atau tiga gayung kecil saja).

Musta’mal

pemahaman istilah mustamal dalam masalah air kerap rancu karena mencampur adukkan antara istilah bahasa umum dan istilah fikih. mustamal kerap diartikan dengan  semua bekas basuhan,  baik itu wajib,  sunnah maupun sekedar istilah bekas saja yang berimbas pada hal yang berlebihan, mubadzir dan munculnya syak keraguan seseorang dalam bersesuci.  mustamal dalam fikih air adalah : air yang telah digunakan pada basuhan wajib.  basuhan wajib dalam bersesuci adalah basuhan merata pada bagian-bagian  yang telah ditentukan syariat.  selama basuhan wajib belum merata maka air bekas basuhan tersebut tetap menjadi mustamal meskipun telah mengulanginya dua sampai tiga kali basuhan.

kecuali menyelam kedalam air,  bilasan berupa basuhan pertama pada bagian wajib hampir mustahil dikatakan telah merata pada semua bagiannya.  selama basuhan pertama tidak merata,  maka basuhan kedua dan seterusnya akan dihukumi wajib sampai semua basuhan telah merata. karenanya, mengulang hingga tiga kali adalah sifat berhati-hati dalam menjalankan bersesuci. hingga seseorang yakin bahwa bagian itu telah terbasuh secara sempurna. 

Mencuci Badan /Benda Najis

penggunaan alat bantu dalam masalah bersesuci atau mencuci bukanlah syarat yang menentukan kesucian badan maupun benda.  alat bantu berupa sambun, sampo,  mesin cuci,  rendam, kucek  diperlukan hanya ketika najis menjadi sulit untuk dihilangkan  pada kasus noda membandel – najis muta’assir-.

pun demikian syariah tidak begitu keras dalam memberi solusi pada   najis yang sangat sulit dihilangkan .  Noda membandel dari bekas najis tidak wajib dihilangkan dengan sangat sempurna.  dari  tiga sifat najis, (rasa,  bau dan warna)  rasa adalah sifat yang paling kuat terkait wujudnya najis ainiyyah – yang nampak-.  sementara warna dan bau hanyalah alamat atau tanda najis  yang lemah.

pada satu riwayat, seorang sahabat perempuan mendatangi Rasulullah dan bertanya terkait cara mensucikan darah  yang menempel dipakaiannya. “cukup bagimu menguceknya dan bilaslah dengan air,  adapun bekasnya maka tidak apa-apa”.  – alhadis. riwayat ini menjadi acuan ulama madzhab syafii terkait adanya hukum najis membandel dan ruhsoh berupa keringanannya.

Solusi Najis Membandel – Najis muta’assir-.

pada dasarnya poin utama pada SOP standar kesucian dalam masalah cuci mencuci adalah meratakan bilasan dengan air mutlak.  tidak ada syarat penggunaan alat bantu lain.  penilaian suci dan tidak suci hanya ada pada basuhan/ bilasan terakhir pada benda tersebut.  jika sudah memenuhi standar air mutlak maka dihukumi suci. tentunya setelah hilang semua sifat najisnya jika memang  terdapat najis ainiyyah. 

Tiga perbedaan  sifat najis yang telah disinggung diatas berimbas pada perbedaan hukum yang akan menjadi  standar ruhsoh – keringanan-  berupa dimaafkannya beberapa sifat najis yang sulit untuk dihilangkan.  selain air mutlak dan bilasan bilasan pada benda yang dicuci,  ada kewajiban tambahan berupa usaha mengucek,  merendam sampai menggunakan alat bantu sabun atau lainnya jika noda najis pada benda tersebut masuk dalam kategiri membandel. 

ketika sudah berusaha maksimal  menggunakan alat bantu sementara bekas nida najis masih sulit dihilangkan,  maka  wujud salah satu dari  warna atau  baunya akan ma’fuun anhu – dimaafkan oleh syariah- telah dibukumi suci.  karena sifat najis yang kuat adalah ketika berkumpulnya bau dan warna atau rasa. inilah yang dimaksud ulama syafiiyyah dengan hukum najis mutaassir dan solusinya. 

Wallahu a’lam

جزى الله عنامحمدا ما هو أهله  

Syrah Bulugh Marom
Fiqih Ibadah Madzhab Syafii –  Taqrirah saddidah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون