Hikmah dan Tekstualis – Kebodohan Wanita?


image

wacana usang yang selalu dibenturkan  paradigma diskriminatif sebuah doktrin  pemahaman hegemoni budaya penindasan kaum partikari . ketika perempuan harus menjadi objek pesakitan.

Bika Muhammad ila Rabbi

Sayyed EP
naqisootul aqli waddien,  perempuan adalah pemilik predikat – naif- sebagai manusia yang diciptakan sebagai pribadi minus dari dua sisi sekaligus : jiwa dan rohani – akal fikiran dan ruh keagamaaan- [penggalan hadis] .  sungguh tragis derita mahluk bernama perempuan ini. ibarat musibah  jatuh terpeleset tertimpa tangga dan menginjak paku,  what a perfect combination. 

adakah kesempurnaan hanya milik Maryam,  Khadijah,  Fatimah,  Asiyah dan Aisyah saja.  hingga  menafikan mayoritas perempuan yang konon presentasenya  selalu mendominasi kehidupan dunia sekaligus akhirat.  pun kita kerap menafikan tarbiyyah basic edukasi dari para ibu yang melahirkan jutaan pahlawan dunia. 

kekurangan akal bukanlah materi akal seorang perampuan yang minus dari para pria,  bahkan tak jarang ditemukan perempuan yang memiliki intelligensi diatas rata-rata kaum   pria.  kurangnya akal hanyalah sebuah kondisi dimana kodrat perempuan yang lebih dikuasai oleh dominasi perasaan.  bukan parameter wujud kurangnya intelegensi yang sebenarnya memiliki kesamaan bahkan melebihi para pria. 
Fadhl – anugrah- sensitifitas rasa dan perasaan  yang berlebihan ini menyimpan banyak potensi positif terkait proteksi diri,  anak dan keluarganya.  derai air mata kebahagian dan kesedihan adalah jawaban tulus tak terbantahkan.  sebuah cara dan sifat Tuhan yang tak kan terungkap kata,  dan ‘feel’  sensitive ini adalah permulaan dari  puncak dari ibadah para mukhlisin sufi agung yang coba menyatukan rasanya dengan rasaNya hingga mereka mengklaim tendensi gila dan ekstase. 

nalar logika adalah ilmu para awam yang telah  menjadi ciri sifat bawaan para pria.  sangat jauh perbandingan logika dan rasa.  inilah fadhl sesungguhnya yang dimiliki para Perempuan yang kerap menafikan nalar logika para pria.  mereka kaum hawa lebih  cepat menjangkau intuisi kelas atas atas pemahaman irfaninya.  tak heran jika sekelas Syekh Akbar Ibnu Arabi berguru pada sufi  perempuan Fatimah “almursi”.  dialah salah satu pembuka tabir – syaikhoh futuh- sang penggegas Magnum opus Futuhaatul Makkiyah. 

Kekurangan agama a. k. a naqisootul dien termaktub dalam jerat dalam takdir perempuan yang terpatri pada sebuah kemuliaan berbalut ‘darah kotor’  yang mereka hadapi disetiap bulannya.  hal ini telah sayyed tulis oada coretan “perempuan dewasa”.  bacalah dan akan kalian temukan ihwal dan strategi Tuhan terkait urgensi  pendewasaan dan seluk beluk perempuan dengan dunia ibunya. 

Wallahu A’lam 

wama Taufiq I illa Billah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون