Periahal Batal Puasa yang Samar (Kumur, Sikat Gigi, ciuman dan keluar Mani)


sayyyed

sayyyed

Apakah keluar mani saat sedang mengerjakan puasa bisa membatalkan atau merusak  fadhilah  puasa.?  Bolehkan seseorang mencium istrinya saat sedang berpuasa?  Bagaimana dengan hukum berkumur dan sikat Gigi?

sayed eo Bikailarobbi

Bismiillah wa ala millati Rosulillah

Jika seseorang mengeluarkan mani, baik disengaja maupun tidak, maka hal tersebut tergantung sebab apa mani keluar.

1.Keluarnya mani bisa membatalkan puasa jika kita sengaja memaksakan diri untuk mengeluarkannya, baik dengan cara onani maupun bermesraan dengan istri tanpa ada tedeng aling-aling (kulit dengan kulit).

2.Selain dua kejadian diatas, maka hukum keluarnya mani tidak membatalkan puasa. Misalkan sebab mimpi. Melihat atau memikirkan sesuatu yang membangkitkan syahwat (bagaimana dg  melihat vidieo dan gambar dewasa? ). Begitu juga jika kita bermesraan tapi dalam keadaan berpakaian.

Mencium Istri saat Puasa (pembangkit Syahwat)? 

1- Mencium Istri diharamkan jika memang membangkitkan syahwat seseorang.

2- Hukum berciuman adalah hilaful aula (Boleh tapi menyalahi sesuatu yang lebih utama). Mencium istri tidak membatalkan puasa kecuali jika sampai menyebabkan keluarnya mani.

Berkumur dan Sikat Gigi

Bau mulut orang yang sedang berpuasa sering terjadi karena konsumsi makanan, rokok, dan diam terlalu lama. Untuk mencegah keluarnya bau yang mengganggu ini, sebagian orang terpaksa berkumur-kumur dengan mouthwash dan melakukan sikat gigi. Bolehkah bersikat gigi saat kita sedang menjalankan puasa?

Masalah ini sebenarnya hampir sama dengan menelan ludah bagi orang yang berpuasa yang telah ditulis dalam artikel sebelumnya. Bedanya, menyikat gigi adalah memasukkan benda cair ke dalam mulut dan membuangnya kembali (tidak di telan atau tertelan). Selama sesuatu yang kita masukkan tidak tenggelam ke dalam tenggorokan sah-sah saja bergosok gigi. Masalahnya sangat sulit bagi kita untuk menjaga ludah yang telah tercampur dengan pasta gigi dan membedakan antara keduanya.

Jika kita bisa untuk berhati-hati sekali dalam bersikat gigi dan berkumur sampai selesai, hingga tidak ada bekas makanan dan pasta gigi yang tertelan, maka puasa kita tidak batal. Sebaliknya, jika kita tidak berhati-hati dan menelan bekas-bekas itu, maka puasa kita batal.

Berkumur

Dalam menjalankan sunnah madmadoh (Berkumur) saat berwudhu pun harus berhati-hati. Karena jika kita terlalu semangat membolak-balikan air di dalam mulut dan tertelan, maka masuknya air bekas berkumur dapat membatalkan jika terjadi pada basuhan ke dua dan ke tiga. Sementara kumur yang pertama tidak membatalkan, karena basuhan pertama adalah basuhan wajib.

Begitu pula hukum menelan air bekas berkumur (telah dibuang) yang telah bercampur dengan ludah, tidak membatakan karena sulitnya membedakan air liur dan air wudhu.

Hujum Najis di Mulut

Lain halnya ketika didalam mulut terdapat sesuatu yang najis. Kejadian ini membolehkan untuk berkumur dengan keras, dan jika ada air yang tertelan maka tidak membatalkan puasanya. Karena adanya perintah agama yang mewajibkan membasuh mulut yang terkena najis.

“Bau mulut orang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada wangi minyak misik” (Alhadis)

Wallahu A’lam

Sumber: Risalah fi as-siyam ala madzhab Assyafii

catatan lama sayyed di kmpsn..  2009/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون