Bekerja untuk Hidup – Ibadah untuk Mati


Madinah Rosul

To Life n Die  in Madinah Rosul

Allahumma Solli ala Sayyidina Muhammad – Salam Maulid
Sayyed EP Bikailarobbi.Wordpress.com

Sebuah pergeseran atas pemahaman teks tanpa klarifikasi oleh siapa, bagaimana dan untuk apa anjuran dan larangan silih berganti mengurung gerak gerik manusia. Judul tulisan ini merefresh memori lama sayyed pada satu keterangan yang dipaparkan sang guru saat mengikuti kajian Riyadus Salihin karya Syarofuddin Yahya An-nawawi, lebih dikenal dengan sebutan Imam Nawai Siriya. Mengutip Sebuah Hadis Mauquf (disandarkan pada sahabat) Abdullah bin Amar bin Ash. :
“ berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu pasti mati besok pagi”.

Perihal pemutarbalikkan makna dan fakta yang sebenarnya atas kutipan sahabat tersebut telah mashur pada kalangan masyarakat umum. Memang secara harfiiyah konteks ucapan tersebut adalah motivasi bagi semua manusia untuk fokus dan semangat dalam bekerja dan beribadah. Tidak ada salahnya bagi siapapun untuk bekerja mengais pundi-pundi harta hingga menjadi triliuner selama mengerti* (syarat dan ketentuan berlakunya). Bukankah meninggalkan keluarga dalam keadaan mapan lebih utama daripada sebaliknya?.

“Bekerja demi hidup selamanya”- teks inilah yang oleh guru sayyed diterangkan dengan pemahaman terbalik dan berbeda dengan mayoritas da’i masakini. Beliau melihat, merinci kondisi dan gaya hidup serta kepribadian dari periwayat hadis (Abdullah bin umar) yang merupakan seorang zahid ulung (makna bebas dari zahid, zuhud adalah gambaran sikap hidup yang tidak terlalu terikat dan diperbudak oleh dunia dan lebih fokus ke urusan akherat). Karenanya ucapan tersebut bukan anjuran untuk berlebihan dalam mengumpulkan harta, melainkan sebuah kecukupan demi keberlangsungan hidup, toh bekerja demi akhirat termasuk ibadah.

Memahami ucapan dari sisi psikologi mutakallim, pastinya akan lebih tepat dibandingkan sekedar copy paste ucapan seseorang tanpa mengenal sejarah dan masanya. Pun pada saat akademisi banyak terdoktrin dengan teori “pengarang telah mati, hingga dengan seenaknya setiap kepala bebas memaknai ucapan sesuai dengan hasrat dan kepentingannya.

Setelah mencari sumber-sumber lain dari kutipan hadis mauquf ini. ternyata memang semuanya ada dalam Bab Zuhud ( anjuran untuk bersikap hidup sederhana), sesuai dengan keadaan Abdullah bin Amar. Setidaknya ada empat kitab hadis dan syarahnya yang mengutip hadis mauquf ini untuk dijadikan dalih anjuran hidup sederhana dan lebih menfokuskan pada masalah-masalah akhirat. Walau bagaimanapun dunia adalah wasilah jembatan penuh makayid (tipu daya). Faktanya, sekarang Banyak ulama dan para waliyullah terpandang plus kaya raya tetapi tidak meninggalkan kezuhudannya.

Apakah ini mustahil? Bagaimana dengan kriteria ulama Su’pada klasifikasi teori Ghozali dalam bidayah hidayahnya?..tobe continuee (:

Salam BikailaRObbi
Old memories- Bumi Ayu. Riyaduss solihin Nawawi. Abdullah bin Amr
Bughyatul Harist, Ittikhaful Khairoh Almughiroh, Zawaidul Haitsami dan Faidul Khabir

Rasakan Nafas dan desah coretan berikutnya :

Me Rindu Terkasih :

aNgel and Glowin!

Am I the Lover

Matahari Malam

Man of Dirtiez

Hakiki Irfani

Jah  XXX @ first Nite

Wahaabi penggila Syiah

Manfaat Gila Tak Terduga !!

Laila dan Malam Syahdunya?

Ciuman menggetarkan

Mengenang dekap muclassic mode

Nikmat Hasrat Bersamamu

KeBaikan Samar dan Keburukan Nyata

Penikmat Rasa Dosa yang  Samar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون