Hubungan Nahwu dan Fiqih (Furu’ fiqih)


image

Wa Nahwu awla awwalan an yu lama – idzil kalamu dunahu la yufhama. Kayyafhamu ma’anial qurani wa sunnatuid daqiqotil ma’ani.

Ilmu Nahwu memiliki prioritas penting untuk dipelajari. karena al-kalam “sebuah ungkapan” tanpany sulit difahami.

Nahwu sangat berperan dalam memahami makna-makna tersirat dari Alquran dan Sunnah. – Muqoddimah Imrithi

Sayyed Ep BikailaRobbi.wordpress.com

Kajian dan pembahasan tentang halal haram yang menjadi pondasi kebaikan dunia dan akherat kemudian dikenal dengan ilmu fiqih merujuk pada metodologi ilmu ushul fiqih dan ilmu al-arobiyyah. Ushul fiqih sebagai rujukan metodologi pembentukan  fiqih sudah jamak diketahui sekilas melalui nanmanya (ushul+fiqih).

Sumber otoritas kedua dalam mengkaji fiqih adalah  ilmu al-arobiyyah ‘kajian bahasa Arab’. Lughoh dan bahasa Arab sebagai ilmu alat mustahil untuk dipisahkan, mengingat sumber primer fiqih Islam Quran dan hadis keduanya menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian bahasa Arab merupakan instrumen penentu dalam memahami dalil-dalil hukum dan madlulnya.

Penghapal hadis yang mengerti sanad dan semua tentang periwayatannya tanpa bantuan pengalaman dari kajian ushul fiqih dan ilmu al-arabiyyah diibaratkan dengan para pemerhati Alquran hanya dari sisi hapalan saja. mereka sangat jauh dari kajian yang berhubungan  dengan kriteria  para perumus ijtihad dan istimbathul hukmi para mujtahid.

sebagai salah satu metodologi takhrij -menampakkan – hukum dari Quran dan hadis, ilmu Nahwu menjadi salah satu penentu legalitas sumber dalil dan argumen dari setiap perbedaan perspektif Fuqoha -para ulama fiqih- yang kerap terjadi ketika menginterpertasikan makna-makna huruf dan dalalah maksud dari bunyi teks -teks suci yang dijadikan pijakan landasan hukum.

Hujjah dari pakar Nahwu  akan menentukan semua label hukum syariah, halal harom, sah batal, makruh mubah dll pada setiap muamalah dan ibadah manusia mukallaf.

Jila perbedaan perspektif dalam Nahwu menjdi sebab perbedaan makna, maka  pada bidang fiqih juga akan memunculkan perbedaan hukum. alasan inilah yang mengharuskan seorang Faqih -ahli agama- memulai pemahaman dan kajiannya dengan ilmu Nahwu agar ia bisa mengelurakan hukum dan istimbath dari perspektif para ahli fiqih yang memang kerap berbeda-beda. jika seorang faqih mendalami ilmu fiqih sebelum Nahwu otomatis ia telah menghilangkan modal dasar alat fiqih yang pertama. mengingat ilmu nahwu adalah dasar fiqih dan menjadi ikatan bagi seorang faqih.

Tanpa ilmu Nahwu seorang faqih pantas untuk  diragukan dan tidak diambil fatwanya jika sampai tidak memahami i’rob dan dasar grammarnya.

Ibnu hazm  lebih tegas mengkritisi masalah ini. ia mengharamkan bagi siapapun untuk berfatwa dalam masalah agama bagi mereka yang tidak memahami ilmu al-lughoh. seperti diharamkannya meminta fatwa kepada orang yang bodoh dalam ilmu lughoh.

Bagaimana cara, guna dan implementasi Nahwu dalam cabang-cabang fiqih..?
to be continued …

Wallahu A’lam

ref : Kawakib ad-Dari fi Takhrijil furu’ ala masail an-Nahwiyyah. Asnawi

Nadhom Jurumiyyah. al-Imrithi
Rosail Ibn Hazm. Ibn Hazm

Bandung 04 04 14. 4: 44 Pm @Free apartement. 2nd floor -sukarno hatta street

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون