Penyematan Kata SAYYID Dalam Sholawat Nabi SAW


Image

Janganlah kamu jadikan seruan atau panggilan Rasulullah di antara kamu seperti seruan atau panggilan sesama kamuAnnur 63

Sayyidina Muhammad

Pokok permasalahan penyematan kata SAYYED adalah hadis Nabi yang berbunyi : Janganlah kalian memberikan kata SAYYED dalam Sholat.  Secara harfiyah memang ada anjuran dari Nabi terkait larangan menyematkan kata SAYYED, karenanya klaim dari orang yang menyatakan bahwa tidak boleh menambah-nambahi sholawat nabi dengan kata SAYYED benar adanya, jika memang mereka  hanya memaknai hadis dari satu sisi saja yaitu DOHIRUNNAS (teks hadis). Bukankah ini merupakan bukti sifat Tawadu’nya Rasulullah yang mengajarkan umatnya untuk selalu berlaku rendah hati.

 

Seperti ayat-ayat hukum dalam Alquran yang menrima Nasikh Mansukh (penghapusan/ pergantian hukum) baik dengan sesama Alquran  maupun dengan hadis mutawattir. Begitu juga hadis-hadis Nabi yang menerima Nasikh  Mansukh.  Bukankah dalam keterangan yang lain ,Nabi juga mengatakan : Saya adalah SAYYED dari semua anak adam, dan saya tidak bangga (membangga-banggakannya). Hadis inilah yang menghapus dilarangnya menyematkan kata SAYYED dalam sholawat. Menurut keterangan lain, pelarangan Nabi terkait masalah ini, karena Nabi belum diberi tahu bahwa dirinya adalah SAYYED dari semua umat manusia sejak zaman Nabi Adam hingga hari akhir. Lebih dari itu, Nabi Muhammad adalah SAYYEDUL Mursalin ( Sayyed dari semua utusan Tuhan).

 

Penyematan kata SAYYED pun dikaji secara khusus oleh pemerhati Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)  terkait beberapa kewajiban dan  adab sopan santun  Seorang kepada  murid guru- guru seperitualnya. Apakah mengikuti anjuran lebih utama daripada suluk adab. Dalam kata lain jika kita disuruh oleh guru kita untuk membiasakan  memanggilnya langsung dengan menyebut  namanya tanpa ada penyematan kata Syaikh, Ustad, kiyai, Maha guru, Profesor, Doktor, atau gelar-gelar lain yang lazim diucapkan seorang murid kepada gurunya.

 

Apakah lazim jika seseorang meyebut nama Nabi hanya dengan namanya saja : Hai Muhammad, wahai Bin Baz! Bukannya wahai Sayyidi Muhammad, atau Sayikhi bin Baz. Walaupun Nabi atau guru-guru menganjurkan untuk tidak menambahkan embel-embel apapun, ketika kita memanggilnya. Apakah penyematan kata Sayyed ini Bid’ah dan dilarang oleh Syareat?  Mari berfikir monoton dan literalis, adakah larangan memuliakan sang Nabi besar ini dengan kata-kata Baginda, Sayyed, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan sebagian kelompok mutatorrif yang mengharuskan memanggilnya dengan panggilan yang kurang  pantas dan kering tanpa embel-embel apapun.

-Annur 63 – 64 – Tafsir Tobari – Tafsir Hamka

http://kongaji.tripod.com/myfile/an-nur-ayat-62-64.htm

G unit dorm  2012 -2013

2 Comments (+add yours?)

  1. van
    Jul 01, 2015 @ 17:11:15

    Jangan pakai kata “besar” setelah Nabi karena itu seakan mengecilkan nabi-nabi lainnya.
    Janganlah kamu berlebih-lebihan

    Cukup dengan “Nabi Muhammad SAW”
    kita sudah tahu bahwa beliau BESAR (tanpa ada risiko memberikan kesalahan persepsi pendengar/pembaca bahwa beliau melebihi Nabi-nabi lainnya… ingat bahwa tidak setiap pendengar/pembaca memiliki pengetahuan yang sama dengan anda, bisa jadi di antaranya menjadi salah persepsinya)

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون