Pertempuran Hati, Sebuah soolusi?


Sayyed EP

Mukammad Ali

Munculnya konflik antar manusia ditimbulkan karena sensivitas seseorang yang tidak lagi mampu dihandle dengan hati yang tenang (Nafsul mutmainnah), dan ini merupakan imbas dari telah mendominasinya sikap over confidence serta jiwa otoriter yang menutupi kejernihan berfikir, hingga dalam hatinya tertanam nafsu ammarah dan lawwamah dari iblis- iblis para pencetus madzhab ‘Ana khairun minhu’ (saya lebih baik dari dia).

Hati yang keras, bebal dan cenderung sibuk dengan kesalahan orang-orang sekitar menjadikan kita lupa segala-galanya. Lupa diri, lupa materi sampai lupa ilahi. Hati penuh benci, congkak, hasud, riya, dan sirik tak akan pernah mengajak kita pada hal-hal positif terkait pentingnya intopeksi dan makna dari sebuah perdamaian hakiki. Rayuan-rayuan maut dan segala ritual keagamaan seolah percuma.

Adanya ritual sujud dalam sholat merupakan cermin dari Tuhan agar orang sombong seperti saya, Firaun dan Haman bukanlah apa-apa disisi-Nya. Dzat yang paling layak untuk memamerkan sifat sombong (Tuhan) tidak akan pernah rela jika kesombongannya kita tiru dan bangga-banggakan dihadapan para mahluknya.

Mengalah bukan berarti kalah. Mengapa takut di injak-injak dan bersikeras mendewa-dewakan kejeniusan otak kerdil ini seolah ilmu yang kita miliki telah sampai pada level mujtahid nan jauh dari bentuk kesalahan cara berfikir. Pembenaran dan pembenaran lagi.

Sudahi saja debat kusir yang melahirkan konflik-konflik baru dan cenderung merendahkan, menjatuhkan serta meremehkan derajat orang lain di depan khalayak umum. Kebenaran tidak untuk diperdebatkan. Redam sejenak sensivitas hati dan nafsu memenangkan segala kemenangan semu. Dunia bukan tempat sejati bagi pemegang kebenaran hakiki.

“merajut tali silaturrahmi tidak hanya dengan orang yang telah berlaku baik pada kita. Silaturahmi yang sesungguhnya adalah merajut kembali tali persaudaraan orang-orang yang telah memutuskannya. orang yang membenci dan telah melukai perasaan kita”

“cintailah kekasihmu sewajarnya. Siapa sangka ia akan menjadi musuhmu di lain hari. Bencilah musuhmu sewajarnya. Mungkin saja ia akan menjadi teman sejatimu di kemudian hari”.

So where am i next…

Wallahu ‘Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون