Islam dan Egoisme Beragama


Sayyed EP

Sayyed EP

Oleh : Sayyed EP BikailaRobbi

Kewajiban yang bersifat private atau individual ternyata tidak lebih utama dan sebanding dengan kewajiban kolektif

Mayoritas manusia memang egois hingga dalam masalah agama pun mereka lebih cenderung pilah pilih ibadah mana yang menguntungkan bagi mereka sendiri, karenanya kewajiban individual menjadi prioritas. Tidak salah jika kebanyakan ulama lebih mementingkan kewajiban individual (Fardu ain), bukankah Quran sendiri telah menganjurkan hal ini: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Ayat ini secara gamblang menyuruh kita untuk bersikap egois. Egois dalam arti menyelamatkan diri sendiri lebih penting daripada keluarga bahkan orang lain.

Bagaimana dengan kewajiban kolektif (Fardu kifayah). Apakah kewajiban ini layak kita nomer duakan hanya karena perintah yang diturunkan tidak menyebutkan pribadi atau sebuah golongan tertentu? Imam Haramain memiliki pendapat lain terhadap permasalahan ini. Beliau termasuk orang yang beranggapan bahwa kewajiban kolektif lebih penting dan utama dibanding kewajiban individual. Imam Haramain menilai kewajiban kolektif sangat dianjurkan untuk didahulukan, mengingat tanggung jawab dalam kewajiban ini lebih besar dan lebih bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia serta bisa mempererat jalinan menuju keharmonisan bersama. Dengan menjalankan kewajiban kolektif, berarti pelaku kewajiban ini telah membebaskan dosa-dosa masyarakat sekitarnya. Sebaliknya, jika tak ada satu orang pun yang mengerjakan kewajiban ini, maka semua masyarakat akan terkena imbas dosa kolektif alias maksiat berjamaah. Dilihat dari akibat pelaksaannya. Tentu saja pahala kewajiban kolektif lebih besar dan menjanjikan untuk bekal investasi kita dihari kelak.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada beberapa amalalan menjadikan kita naik derajat menjadi ‘kekasih sejatinya’ (baca WALI ALLAH)  yang sanggup menyaingi amalan orang yang  selalu mendekatkan dirinya secara lahir dengan puasa dan sholat malam, amalan itu tak lain adalah dengan bersabar diantara mahluk  Allah dengan segala tingkah laku positif dan negatifnya serta mendahulukan kewajiban kolektif. Banyak bukti kongkrit yang sering kali membuat kita tutup mata akan eksistensi mereka hanya karena sering menilai orang hanya dari cara berpakaian dan kelas startanya saja, tapi entahlah hati dan jiwa seseorang hanya Allah yang tahu.

Sebuah pekerjaan mulia yang dilupakan banyak orang. Pendekatan yang diteorikan Imam Haramain sangat relevan kita apresiasi dan praktekkan di zaman sekarang. Agama tidak melulu menganjurkan kita menjalankan ibadah untuk akhirat. Agama sangat berperan membangun sebuah tatanan negara hingga terwujudnya masyarakat madani. Kewajiban kolektif sangat membantu kemajuan sebuah daerah. Jika masyarakat sebuah daerah telah mengerjakan PR bersamanya maka keamanan, keindahan dan ekonomi daerah itu akan meningkat pesat dibandingkan jika kita hanya mementingkan nasib kita sendiri. Tidak usah muluk-muluk. Dengan menyingkirkan duri atau paku dari jalan raya saja kita sudah mendapatkan pahala kewajiban kolektif.

Bagaimana dengan anda? senang dan lebih memilih kewajiban individual ataukah kolektif.

coretan Berikutnya (edisi Saudi):

Jambret Masjidil Harom
Sayyed Diusir Polisi Makkah

Lika Liku Jamaah Hajji Indonesia
Pengalaman Tidur Disamping Jasad Nabi
Curhat Para Pecandu lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Daftar isi Celoteh @SayyedEP

https://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/18/daftar-isi-hati/

Group Whasttap :08.232.97766.5.5

سبحان الله

Berharap dapat menyapa dirinya disana -Muh PBUH

إنا لله وإنا إليه راجعون